Oleh: pdirmgresik | 16 Juli 2008

Kritik Film “KINGDOM OF HEAVEN”

perang salib

Tadi malam adalah malam yang tak terduga bagi saya (cieh…) saya pulang dari warnet seperti biasa.. dan having dinner saya selalu terlambat 3 – 4 jam maklum watu itu jam 11:25 menit. Saya menyalakan TV sambil menikmati nasi serbuk jagung berlauk sayap ayam goreng yang agak alot.. ternyata waktu memindah chanel ke no 6 (RCTI) nongol wajah yang tidak asing buat saya.. (spesialis film klasik “mas Orlando Bloom’ yang juga ngetren lewat trilogy Lord of the Ring) ternyata setelah memperhatikan agak lama… tuing’’’tuing… itu adalah film yang saya cari-cari selama 3 tahun ini (Kingdom of Heaven). Dinner langsung saya hentikan dan memutuskan untuk khusyu’ menyimak film yang sejak releas mei 2005 lalu saya cari di sentra cd dan dvd film di Surabaya dan Gresik tapi gak nemu-nemu juga.. saya tahu film ini setelah membaca beberapa ulasan bertajuk “wajah islami ala Hollywood” atau ya gitulah kalau gak salah yang di muat di majalah cerpen islami ANNIDA sekitar akhir tahun 2005 yang lalu… saya memutuskan untuk berburu film ini tapi selalu sia-sia.. tak hanya sampai di situ.. saat saya memiliki usaha warnet saya download abis-abisan trailer sama soundtraxnya.. tak kusangka akhirnya saya bisa menonton film ini juga meski terlambat 45 menit tapi ga papa cukup untuk mengobati rasa penasaran saya….

Menonton sebuah film bermutu, ibarat membaca sebuah

puisi berkualitas; tidak bisa hanya dengan sekali

tonton. Apalagi kalau film tersebut dibuat berdasarkan

kisah nyata. Lebih lagi, kalau film tsb bercerita

tentang sejarah masa lalu. Sebelum menonton, sang

penonton, paling tidak harus memiliki wawasan tentang

sejarah. Lebih paling tidak lagi, sang penonton

setidaknya tahu biografi sang tokoh yang difilmkan,

seperti Salahuddin Al Ayubi yang diceritakan di film

ini (dalam film ini kata Salahuddin jadi

Salahadin. Huruf U diganti A. Padahal para

salibis itu dg fasih mengucapkan Assalamualaikum

yang banyak huruf U nya).

Kalau anda cowok/cewek sinetron, dipastikan tidak akan

bisa memahami film ini, sebab semua dialognya

dilakukan dengan gaya filosofis dan cenderung puitis.

Adegannya pun banyak yang bermakna simbolis.

Dalam film KH (Kingdom of Heaven), kita diajak melihat

kegemilangan orang-orang muslim masa lalu, ketika

menguasai dunia. Walaupun yang menjadi sentral

tokohnya adalah orang Perancis, tak bisa dielakkan,

film ini berusaha membuka mata orang barat, bahwa dari

dulu mereka mempunyai darah pembunuh, dan selalu ingin

menguasai orang lain.

Alkisah Eropa dalam abad 12 dilanda kemiskinan yang

merata. Para pastur berspekulasi bahwa penderitaan itu

akibat dosa-dosa para penduduknya. Sebagai penebusan

dosa, rakyat harus menunaikan ibadah haji ke

Jerusalem, bertemu Jesus, dan mengadakan ritual

convession, pengakuan dosa.

Ajaran Kristen yang disebarkan secara simple, memang

mendapat perhatian yang lumayan besar dari penduduk

Eropa yang waktu itu masih terbelakang. Begitu

agungnya ajaran itu bagi mereka, karena hanya dengan

cukup percaya kepada Yesus, dan bahwa yesus telah

menebus dosa-dosa mereka, mereka pun tertarik menjadi

Kristen. Konsekwensi logis dari masuknya mereka pada

ajaran itu, mereka harus membebaskan tanah kelahiran

Yesus, dan negri di mana Yesus disalib. Mereka tak

mampu memahami misi dan visi EQ (Emotion Quotion) yang

dibawa Yesus, sehingga ajaran kasih sayang yang

disampaikannya ditafsirkan dengan pedang yang

diayunkan terhadap orang Islam.

Sang tokoh dalam film KH, Balian, digambarkan sebagai

tokoh yang mewakili sifat typical Eropa waktu itu,

lugu, polos, dan merasa tak punya dosa. Hingga ketika

ayahnya mengajaknya pergi haji, dia merasa tidak

perlu, karena tak punya dosa. Sang pendeta

digambarkan sebagai tokoh antagonis, yang

memanas-manasin Balian untuk pergi membela Yesus.

Istrimu di neraka, karena dia mati bunuh diri! kata

sang pendeta. Sang pendeta lalu dibunuhnya. Dan kini

ada alasan baginya ke Jerusalem bersama ayahnya, untuk

menebus dosa.

Sang anak yang hanya bekerja sebagai pandai besi

(blacksmith), tiba-tiba saja menjadi ksatria yang

pandai bertempur (itulah film). Bahkan dalam

perjalanan ke jerusalem, kapalnya sempat diamuk badai,

semua anak buhanya mati. Hanya dia yang hidup, dan

seekor kudanya. Inilah kehebatan film barat, manusia

mati tenggelam, kuda bisa berenang.

Begitu mendarat, Balian langsung bertemu dengan

seorang panglima perang muslim yang menyamar menjadi

hamba sahaya. Balian ditantang berduel dengan alasan

telah mengambil kudanya. Balian menang melawan boss si

hamba sahaya. Tapi di sinilah justru yang dicari sang

panglima. Dia sengaja menjebak Balian dalam sebuah

pertempuran satu lawan satu, untuk mengetahui kwalitas

musuhnya. Good quality will be known among your

enemies before ever you meet them, ujarnya. Sehingga

pasukan muslim dituntut untuk belajar lebih banyak

jurus-jurus pedang.

Pencarian identitas sang tokoh berakhir sia-sia ketika

Yesus tak mau menemuinya di bukit, di mana sang anak

Tuhan disalib. Frustrasi, ia pun pacaran dengan istri

calon raja. Inilah typical film holiwood. Film jadi

hancur berantakan gara-gara diselingi adegan tak perlu

dari wanita cantik berwajah porno, yang tak ada

hubungannya dengan jalan cerita. Jauh dengan film

bermutu buatan Akira Kurosawa, Ran, yang sama sekali

tak mengeksploitasi wanita. Hari gini, di dunia nyata,

amerika memang masih menempatkan wanita sebagai budak

nafsu.

Walaupun demikian, di film KH, Ridley Scott, sang

sutradara, sadar atau tidak sadar, mengarahkan

kebodohan dari tujuan perang Salib. Perang yang

katanya demi Tuhan itu, akhirnya dikuasai oleh para

politikus jorok yang murni mengejar kekuasaan. Ketika

Raja Baldwin IV berjuang melawan lepra, calon

penggantinya, Renald, melanggar perjanjian damai

dengan Salahuddin, Renald dan anak buahnya menyerang

kafilah muslim yang hendak pergi haji dan membantai

seluruh kafilah.

Bahkan dalam kesempatan yang lain, saudara perempuan

Salahuddin dibunuhnya. Kedamaian antara Kristen,

Muslim dan yahudi jadi hancur. Hilanglah Kingdom of

Heaven yang selama ini dibina Salahuddin dan raja

Baldwin. Pengganti raja Baldwin makin merusak

perjanjian, setelah jadi raja. Ambisinya menumpas

pasukan Islam makin menggebu-gebu, didukung para

pendeta yang gemar mabuk-mabukan.

Tidak seperti dalam ajaran Kristen, yang mengatakan

bila ditampar pipi kanan, berikan pipi kiri. Ajaran

Islam menegaskan, bahwa bila musuh melanggar

perjanjian damai, musti dikasih pelajaran. Musti

diperangi sampai takluk.

Maka perang pun meletus secara sporadis dalam rentang

waktu yang lama, dan dengan eskalasi yang naik turun,

antara pasukan muslim yang dipimpin Salahuddin dan

pasukan salib yang dipimpin secara bergantian. Dalam

setiap pertempuran, sang sutradara mau mengakui fakta

sejarah, bahwa pasukan salib selalu dikalahkan. Ibarat

kelinci masuk kandang macan, itulah nasib para

salibis, menghadapi Salahuddin. Auuum nyam nyam

nyam.

Tapi unsur antagonis pejuang muslim masih kelihatan

kental dalam film ini, sebab tokoh Salahuddin

digambarkan bertampang tua dan jelek. Mustinya kalau

mau serius, Scott mau memasang wajah yang tidak

terlalu serem. (Minimal, yah, memasang tampang seperti

sayaaa, gitu loh). Atau memang sang sutradara mau

menyampaikan pesan, bahwa dalam islam, unsur tampang

tidak terlalu penting. Bahwa dalam Islam yang

dipandang adalah karakternya, sifatnya, tingkah

lakunya, prestasinya bukan tampang atau keturunannya.

(jadi tampang saya gak jadi dipake dooong).

Film berkahir dengan klimaks resistansi yang tingi

dari pasukan salib, yang sudah banyak kehilangan

panglima perang. Tinggallah si Belian, mantan tukang

besi yang harus jadi pemimpin perang. Di sini

sutradara film tak mau mengecewakan penonton Eropa.

Pasukan salib dan rakyat Kristen digambarkan bertempur

mati-matian menghadapi pasukan Salahuddin yang

bersenjata balista (ketapel raksasa). Korban pun

berjatuhan sangat banyak di kedua belah pihak.

Dalam fakta sejarah, Pasukan Kristen sama sekali tak

melakukan perlawanan ketika pasukan Salahuddin datang

ke Jerusalem. Salahuddin dan tentaranya juga tak

melakukan pembunuhan, apalagi melempari benteng dengan

peluru-peluru balista. Dalam fakta sejarah, pasukan

Kristen takluk tanpa syarat, karena pertahanan sudah

terlalu lemah Dan Jerusalem pun diserahkan pada

pemerintah muslim dengan suka rela. Jadi tidak ada

itu, pahlawan pengobar semangat 45 yang berkoar-koar

menahan laju laskar Salahuddin. Dalam fakta sejarah,

sekali lagi Kingdom of Heaven lahir di bawah

kepemimpinan Salahuddin. Tak satu pun tentara salib

yang dijatuhi hukuman karena memerangi muslim.

Bandingkan dengan sikap pasukan salibis amerika

sekarang, yang suka menyiksa tawanan mereka di Iraq,

Afghanistan dan Guantanamo.

Di akhir cerita di film itu, tersiratlah kebodohan

dari para pemimpin perang salib. Setelah begitu banyak

korban, si Balian bertanya dengan lugu pada

Salahuddin, Apa sih Jerusalem itu?

Nothing, jawab Salahuddin. Everything, setelah

jatuh ke tangan muslim, lanjutnya.

Sang bintang pun, Balian, pulang kampung naik kuda

membawa Kingdom of Heaven dalam hatinya, ketuplak

ketuplak ketuplak Bahwa kedamaian ada di dalam hati,

itu benar adanya.

Sementara Salahuddin dan pasukannya memberikan

toleransi yang tinggi pada pemeluk ajaran lain.

Digambarkan Salahuddin membetulkan letak salib yang

jatuh akibat perang. Nayid Persatuan pun

dikumandangkan di film tsb, walau sekedar backround.

Bandingkan lagi dengan sikap pasukan Joj Bush di

Guantanamo, yang menjadikan lembaran-lembaran mushaf

al Quran sebagai tissue untuk toilet.

Sayang, hanya satu yang sadar dari kebodohan perang

Salib. Sebab setelah tokoh dari Perancis, Balian, yang

pulang gigit jari (tapi lumayan, dapat janda raja),

kini diganti Richard si Lion Heart, raja Inggris, yang

pergi haji ke Jerusalem. Penonton pun dipersilakan

membaca buku sejarah untuk mengetahui lengkapnya jalan

cerita selanjutnya.

Dan setelah membaca review ini, mendingan gak usah

nonton filmnya deh, bikin kaya amerika aja. Tapi kalau

terpaksa, ya, nonton bajakannya saja, ceritanya sama

saja kok. Malah yang bajakan lebih seru, ada

kriuk-kriuknya.

wassalam

terima kasih buat mas arif hamdani di http://mevlanasufi.blogspot.com

atas bantuan melengkapi review film ini

 

POSTED BY AYIEK

About these ads

Responses

  1. jelas sih resensinya… cuman kenapa ada bumbunya, jadi g’ virgin lagi kayak filmnya yang asli.
    emang kalo dalam film itu banyak yang g’ sesuai ama sejarah yah? mending ditelusuri lagi obyektifnya. bisa aja kan kalo sejarah yang ditulis juga ada bumbunya atau ada standar rasa tertentu (maksudnya udah ditambah-tambahin ceritanya juga ada kepentingan ideologi tertentu) kayak pluralisme atau liberalisme atau humanisme atau komunitarisme atau…. banyak lagi.
    tapi kalo yang buat orang yahudi atau eropa atau inggris atau agama tertentu (islama gitu) yah harus diuji kebenaran dulu setiap alur logika sejarahnya.
    tapi makasih banget… resensinya udah jadi bahan buat tugas penelitian… bye.

  2. klo menuru aq kita liat dan ambil maknanya aj, coz kita tau baiklah kita hidup selalu berdampingan tanpa memandang sesuatu hal. terutam melalui film nee,,,,,
    pesan ” alteri vivas oportet, si vis tibi vivere”

  3. film kan juga harus jaga etika,,nyatanya dalam sejarah 8 kali pasukan arab tidak bisa menembus benteng yerusalem..yang bilang juga sallahadin tuh,,hehehehhe..baca aja di tanskrip sejarah..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: