Oleh: pdirmgresik | 30 Juli 2008

ISRA’ MI’RAJ DENGAN BALANTIKA SEJARAHNYA

Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan fenomena yang mengundang banyak controversial bagi semua orang sampai zaman dewasa ini, termasuk umat Islam. Kontroversi tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu tidak akan muncul jika kita mau memahaminya dengan akal yang sehat dan dikombinasikan dengan wahyu Allah yang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya sebagai pembimbing arah pemikiran kita. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 dari kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa yang agung dan menakjubkan ini terekam dalam Al-qur’an sebagaimana Allah berfirman : “ Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari masjidil-Haraam (di Makkah) ke Masjidil-Aqsa (di Palestina), yang kami berkati sekelilingnya untuk memperlihatkan kepanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar lagi maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’:1). Disinilah akan muncul “perang intelektual” antara orang yang hanya berpedoman pada akal saja (‘Aqlaniyah) dengan orang-orang yang memahami ayat Al-qur’an tersebut dengan akal yang dituntun oleh wahyu (Qur’aniyah). Keimanan kaum muslimin tentang keabsahan peristiwa Isra’ dan Mi’raj pada saat itu hingga kaum muslimin pada zaman ini terus diuji,

terlebih lagi menyinggung perkara perjalanan Rasulullah dari Masjidil-Aqsa (di Palestina) menuju Sidratul Muntaha Menghadap Allah yang dilakukan hanya dengan waktu yang singkat. Pertanyaan yang selalu menggelinding di setiap benak kita adalah, apakah Isra’ dan Mi’raj dilakukan oleh beliau (Rasulullah) hanya dengan ruhnya saja ataukah bersama-sama dengan jasadnya..???

Kelompok ‘aqlaniyah telah menguji kebenaran peristiwa tersebut yang langsung diawali langsung oleh Abu Jahal dan kaum kuffar jahiliyyah yang lain. Abu Jahal menyuruh Rasulullah untuk mengangkat kedua-dua belah kakinya, namun Nabi tidak melakukannya sebagaimana yang diperintahkan Abu Jahal. Hal ini telah memperkuat keyakinan mereka untuk terus mengingkari ajaran yang dibawa Rasulullah selama-lamanya. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya pada peristiwa Isra’ Mi’raj, sedangkan Rasulullah tidak mampu mengangkat kedua belah kakinya. Akhirnya, karena Abu Jahal memahami peristiwa tersebut hanya bersandaran pada logika pikirannya. Maka Abu Jahal dan kaum kuffar jahliyyah yang sependapat dengannya mengklaim bahwa cerita Rasulullah tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang telah dialaminya hanyalah kebohongan belaka. Karena bagi mereka peristiwa itu sudah di luar bats kemampuan logika.

Hingga hari ini, dalam menghadapi peristiwa Isra’ dan Mi’raj, semua pihak lebih-lebih yang mempunyai intelektual yang tinggi merasa terpanggil untuk mengkaji secara libih jauh lagi akan “bentuk” Isra’ dan Mi’raj ini, sehingga mendapatkan suatu jawaban yang konkrit yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Namun bahwa anda selaku pengkaji dan penelaah peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya berbekal akal saja atau masuk ke dalam kelompok ‘Aqlaniyah, maka apa yang diusahakan itu akan menemui kegagalan semata. Jangan pula menutup mata terhadap kebenaran wahyu (Al-Qur’an), terlebih lagi berburuk sangka terhadap wahyu Allah, karena daya intelektual dan kemampuan kita dalam berpikir sangatlah terbatas dalam menangani permasalahan yang timbul di tengah masyarakat kita. Keimanan kita sebagai muslim benar-benar diuji dalam menghadapi peristiwa ini, yang dimana peristiwa ini memang sudah diluar logika manusia. Akan tetapi dengan berkembangnya zaman dan perkembangn Ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, saya yakin suatu saat nanti peristiwa itu akan terbukti kebenarannya dan dapat diterima kebenarannya oleh semua lapidan masyarakat. Insya Allah.

Terlepas dari itu semua, tentunya peristiwa yang sangat dahsyat ini menyembunyikan banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil. Dan yang paling penting yaitu perintah untuk melakukan Shalat lima waktu. Ini menggambarkan bahwa betapa pentingnya shalat dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah. Shalat merupakan bentuk komunikasi kita kepada Allah seperti apa yang telah dilakukan Rasulullah yang dalam menerima perintah ini langsung bertemu dengan Allah. Banyak buku yang menerangkan betapa hebatnya manfaat dari shalat baik dari segi jasmani maupun rohani. Dalam Al-qur’an Allah berfirman bahwa :”Sesungguhnya Shalat itu mencegah perbuatan munkar”. Ini sudah jelas bahwa bagaimana kita shalat mencerminkan bagaimana akhlaq kita sehari-hari.

Sungguhlah sia-sia banyak peringatan Isra’ Mi’raj yang diadakan yang sudah barang tentu juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, jika ibadah shalat kita tidak menunjukkan suatu peningkata kualiatas. Kita masih suka lalai dalam shalat kita terlebih kita tidak mengerjakan shalat.

Dalam hari yang dahsyat ini marilah kita instropeksi diri kita masing-masing apakah shalat kita masih amburadul..?? mari kita bertekad untuk memperbaiknya. Karena kualitas shalat kita mencerminkan kualitas dari diri kita sendiri. Peristiwa inipun mengingatkan kepada kita betapa lemahnya kita di hadapan Allah SWT. Semoga kita dapat mendapatkan kecerahan hati dihari yang selalu dikenang ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: