Oleh: pdirmgresik | 20 Maret 2009

MEMAHAMI HAKEKAT DAKWAH

Pokok-Pokok Pemikiran Fiqh Da’wah

Makna Da’wah

Da’wah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah Ta’ala (QS. 12:108, 22:67, 28:87, 13:36, 16:25) dengan cara hikmah dan mau’izhah hasanah (QS. 16:25) sampai manusia ingkar kepada thaughut dan beriman kepada Allah (QS. 2:256, 16:36) sera mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju kepada cahaya Islam (QS. 2:257).

Dengan demikian, da’wah adalah sebuah aktivitas yang harus berjalan terus menerus, dari generasi tanpa kenal berhenti.

Ghayah dalam Da’wah

Ghayah (tujuan utama) dalam da’wah Islam adalah mengajak manusia kepada Allah semata. Agar manusia memiliki orientasi yang lurus dalam kehidupan dunia, yaitu senantiasa beribadah kepada Allah dan menjauhi berbagai ilah selainNya.

Nabi-Nabi terdahulu memiliki ghayah yang sama dalam da’wah. Mereka mengajak kaumnya hanya kepada Allah (QS. 16:36), sebagaimana kisah-kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an tentang Nabi Nuh a.s. (QS. 7:59), Nabi Hud a.s. (QS. 11:53), Shalih a.s. (QS. 7:73), juga Nabi Syu’aib a.s. (QS. 7:85).

Ahdaf dalam Da’wah

Untuk menuju ghayah dalam da’wah yang ideal tersebut, ada ahdaf (sasaran, tujuan antara) yang harus dicapai. Dr. Ali Abdul Halim Mahmud menyebutkan ada beberapa ahdaf dalam da’wah, diantaranya adalah :

a) Membantu manusia agar beribada kepada Allah sesuai dengan syari’atNya.

b) Membantu manusia untuk saling mengenal diantara mereka.

c) Merubah kondisi atau keadaan yang buruk menuju kepada keadaan yang sesuai dengan aturan Islam.

d) Membina pribadi muslim secara utuh sesuai arahan Islam, baik secara ruhiyah, aqliyah, maupun jasadiyah.

e) Mempersiapjan keluarga muslim dan membina seluruh anggota keluarga agar menetapi adab dan syari’at Islam, baik dalam penampla pembicaraan, berpakaian, serta seluruh tingkah laku, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

f) Membimbing masyarakat sesuai arahan Islam, sehingga tercipta komunitas masyarakat yang Islami.

Mad’u dalam Da’wah

Mad’u (obyek) da’wah Islam adalah manusia secara umum tanpa terkecuali. Dr. Ali Abdul Halim Mahmud (1990) dan Dr. Abdul Karim Zaidan (1975) menyebutkan bahwa seluruh manusia itulah obyek da’wah kita. Tidak peduli apakah mereka muslim atau kafir, ahli ketaatan atau ahli kemaksiyatan, pengusaha atau rakyat jelata, miskin atau kaya.

Allah Ta’ala telah berfirman :

“Dan tidaklah kami mengutus kamu, melinkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiyaa’ 21:107).

“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Saba 34:28)

Uslub dalam Da’wah

Tujuan yang baik harus ditempuh dengan metode yang baik pula. Islam mengajarkan, uslub (metode) da’wah dilakukan dengan hikmah dan mau’izhah hasanah, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (An Nahl 16:125).

Hikmah mencakup makna yang amat luas, diantaranya adalah : ketepatan perkataan dan perbuatan, meletakkan sesuatu pada tempatnya, serta itqan (profesional) dalam perkataan dan perbuatan. Kadang hikmah juga bermakna as sunnah. Oleh karena demikian luas pengertiannya. Ali Abdul Halim Mahmud menyimpulkan ada tiga unsur hikmah, yaitu aktifvitas yang sesuai, pada orang yang sesuai dan pada waktu yang sesuai pula.

Aktivitas dikatakan sesuai apabila tidak bertentangan dengan tuntunan Islam. Artinya, metode da’wahtak boleh menyimpang dari orisinalitas tujuan, harus senantiasa sesuai dengan aturan Islam. Orang yang sesui, maksudnya dalam ber da’wah harus memperhatikan siapa mad’u yang tengah dihadapi dan bagaimana kondisi serta kapasitasnya. Waktu yang sesuai, maksudnya mengerjakan aktivitas da’wah dengan memperhatikan waktu yang tepat. Adanya marhalah da’wah merupakan tuntunan penetapan waktu dalam da’wah.

Muhammad Abdul Fathi al Bayanuni menyebutkan, bahwa diantara muzhahir hikmah adalah :

1. Menyusun prioritas (aulawiyat) gerakan.

2. Bertahap (tadarruj) dalam merealisasikan prioritas gerakan.

3. Memilih metode yang tepat untuk kondisi dan kapasitas mad’u yang tepat.

Sedangkan mau’izhah adalah nasehat dan peringatan, perkataan yang jelas dan lembut, targhib dan tarhib.

Marhalah Da’wah

Dalam rangka meraih ghayah dan ahdaf dalam da’wah, diperlukan adanya tahapan-tahapan dalam da’wa. Masing-masing tahapan memiliki target dan karakteristik sendiri-sendiri, dan masing-masing tahapan memiliki sarana tersendiri. Begitupulalah yang dilakukan Rasulullah s.a.w., atas petunjuk Allah s.w.t. dalam membangun kaum muslimin generasi awal.

‘Aisyah Ra pernah berkomentar :

“Sesungguhnya yang diturunkan mula-mula dari surat-surat yang pendek (Makkah) berisi di dalamnya peringatan tentang surga dan neraka. Sampai ketika manusia telah teguh kepada Islam, barulah diturunkan tentang halal dan haram. Seandainya yang diturunkan mula-mula dari segala sesuatu adalah “Janganlah kamu minum khamr!” Maka sungguh (orang-orang) itu akan berkata “Kami tidak meninggalakan khamr selamanya!” atau seandainya yang diturunkan mula-mula adalah “Janganlah kamu berzina!” Sungguh (orang-orang) itu akan berkata “Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya!” (HR Bukhary).

Tahapan-tahapan itu adalah :

Marhalah Tabligh

Marhalah tabligh adalah marhalah awal dalam da’wah. Sebagaimana arti dari tabligh sendiri adalah menyampaikan maka aktivitas dalam marhalah inbi adalah menyebarluaskan nilai-nilai Islam dan bertabligh kepada seluruh manusia. Firman Allah Ta’ala :

“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyempaikan amanatNya…” (Al Maa-idah 5:67).

Target dari marhalah tabligh adalah merubah manusia dari kondisi jahiliyah (kebodohan dari ajaran Islam) menjadi ma’rifah. Sarananya adalah I’lam yaitu promosi melalui ceramah, pidato,tulisan dan media komunikasi lainnya, baik yang sifatnya konvensional sampai kepada sarana yang mutahir.

Marhalah Ta’lim

Pada marhalah ini target yang hendak diraih adalah merubah manusia dari kondisi ma’rifah (sekedar kenal) menjadi fikrah (pemikiran dan keyaklinan). Pada tingkat ini sudah seharusnya seorang memandang segala permasalahan kehidupan, baik dalam skala fardi maupun jama’I dari kacamata Islam.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Al Jumu’ah 62:2).

Sarana dalam marhalah ini adalah tazwidul ‘ulum yaitu pemberian bekal-bekal keilmuan Islam secara syumul (utuh), jelas dan dari rujukan yang shahih.

Ali Abdul Halim Mahmud meyebut kedua marhalah ini sebagai marhalah ta’rif atau pengenalan yang memiliki ciri umum : “umumiyatud da’wah, ‘umumiyatul mad’u, ‘umumiyatul ‘amal serta at takhthit, at tanzhim wa husnul idarah (perencanaan, pengorganisasian dan manajerial yang bagus).

Marhalah Takwin (Pembentukan)

Target marhalah takwin adalah merubah fikrah (pemikiran) menjadi sebentuk aktivitas riil dalam gerakan.

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyerupai kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran 3:104)

Sarananya adalah tadribul amal (latihan-latihan kerja) di medan da’wah

“Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu…” (At Taubah 9:105).

Apabila marhalah ta’rif ditujukan kepada manusia dengan ciri keumuman, maka dalam marhalah takwin ini ciri umumnya adalah kekhususan. Ali Abdul Halaim Mahmud menyebutkan ada 5 ciri kekhususan : (1) khushushiyatud da’wah, (2) khushushiyatut du’at, (3) khushushiyatul mad’uwin, (4) khushushiyatul ‘amal, dan (5) khushushiyatut tanzhim wal idarah.

Dengan demikian, marhalah takwin ini memang sebuah fase khusus untuk melakukan kaderisasi secara intensif kepada person-person terpilih.

Marhalah Tanzhim (Strukturalisasi)

Amaliyah marhalah tanzhim adalah mengarahkan aktivitas gerakan menuju kepada natijah (hasil), dengan jalan :

i. Tauhidush shufuf (penyetuan barisan).

ii. Tansiqul amal (koordinasi aktivitas).

iii. Muraqabatun nasyath (kontrol aktifitas).


“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam shaf (barisan) yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (Ash Shaff 61:4)

Marhalah Tanfidz (Operasionalisasi)

Amaliyah marhalah tanfodz adalah mengarahkan natijah (hasil) kepada ghayah (tujuan akhir) dari da’wah yaitu tegaknya kalima Allah di atas muk bumi.

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah…” (Al Anfaal 8:39).

Keseluruhan marhalah ini merupakan satu rangkaian gerak yang tak terpisahkan, dan senantiasa berjalan secara bertahap.

.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: