Oleh: pdirmgresik | 5 April 2009

Mengapresiasi Kegagalan

Mengapresiasi Kegagalan

Ditulis Oleh:

Wahyi Ba’dal Fitri*


Kesuksesan adalah impian dan pasti diidam-idam kan oleh setiap orang. Dalam meraih kesuksesan, sering kali setiap orang mengerahkan semua yang ada pada diri mereka untuk meraih sebuah kesuksesan, seperti semangat dan ketekunan yang mereka miliki hingga mencapai titik klimaks. Selain semangat dan ketekunan, orang yang ingin sukses haruslah memiliki mimpi dan keyakinan bahwa mimpi itu akan dapat terjadi berapapun harga yang harus ia bayar, seperti yang dikatakan oleh Bill Gates, pendiri Microsoft.

Namun, sering kali apabila seseorang telah mengerahkan semangat dan ketekunan yang mereka miliki hingga mencapai titik klimaks untuk meraih sebuah keuksesan , setelah ia tahu bahwa ia gagal ataupun kesuksesan mereka tertunda, semangat yang ia miliki jatuh total hingga mungkin semangat yang awalnya berada di titik 100% jatuh dan merosot hingga mencapai titik minus. Akibatnya, ia akan tidak ingin lagi berjuang untuk meraih sukses yang masih menanti diwaktu yang akan datang. Dan tiap hari semakin jatuh semangat itu, hingga mungkin saja ia tidak memiliki semangat lagi untuk hidup hingga ia mati.

Hal tersebut disebabkan oleh ia tidak Mengapresiasi Kegagalan yang sedang ia alami.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Apresiasi memiliki salah satu pengertian, penilaian dan penghargaan terhadap sesuatu, sedangkan Mengapresiasi memiliki pengertian melakukan pengamatan, penilaian dan penghargaan. Jadi, Mengapresiasi Kegagalan ialah melakukan pengamatan, penilaian dan penghargaan terhadap kegagalan yang sedang di alami, sehingga kegagalan tersebut tidak terjadi lagi dan menjadikan kegagalan tersebut menjadi pengalaman yang indah.

Dalam mengapresiasi kegagalan terdapat 2 pihak yang terlibat penuh dalam menjalankannya. Yaitu diri sendiri dan orang lain seperti guru BK dan orang tua. Yang dapat dilakukan oleh orang tua ataupun guru BK adalah membantu mencari keslahan-kesalahan yang mungkin telah ia lakukan sehingga menyebabkan ia mengalami kegagalan. Ataupun juga memberi support agar semangat mereka kembali lagi.

Namun dalam mengapresiasi kegagalan, pihak orang tua ataupun guru BK tidak terlalu menjadi prioritas. Yang terpenting adalah dari diri sendiri. Yang dapat kita lakukan dalam mengapresiasi kegagalan kita adalah kembali membangunkan Raksasa Tidur yang ada dalam diri kita. Yaitu semangat dan otak serta ketekunan kita. Karena otak bagaikan alam semesta mini yang dapat menangkap 10 informasi tiap detik, dapat bekerja secepat kilat. Selain itu, kita harus membentuk sebuah komitmen baru, yaitu: melakukan sesuatu kapanpun jika ada waktu kosong, dan menyelesaikannya semaksimal mungkin dan sampai selesai.

Kita juga harus selalu berfikir, bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, kegagalan bukan berarti bahwa kita akan mati. Kegagalan adalah awal dari perjuangan, kegagalan adalah teguran kita untuk sukses, kegagalan adalah pengalaman terindah dan pelajaran paling berharga, dan setelah kegagalan pasti ada kesuksesan (QS. Alam Nasyrah ayat 6). SELALU SEMANGAT…!!!!!!!

*Penulis adalah Sekretaris Bidang Kajian Dakwah Islam

Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Gresik.

Biodata Penulis:

Nama : Wahyi Ba’dal Fitri

NBA : 13.25.15769

TTL : Sidoarjo, 4 Mei 1992

Alamat : Jalan KH. Kholil 33 Gresik 61115

Telepon : 085648556220


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: